Friday, July 31, 2015

Belajarlah Dari Kehancuran Umat Terdahulu!

Al-Qur’an surah Al-A’raf selain memberitahukan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam agar tidak sesak nafas, ketika melangsungkan dakwah, dan menghadapi kaumnya, yang ingkar dan menolak ajakannya agar beriman, dan menerima sepenuhnya Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah minhaj Rabbani yang diberikan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam untuk seluruh umat manusia, dan mengikuti agama (din) Allah, yang akan menyelamatkan kehidupan mereka di dunia di akhirat. Minhaj Rabbani ini bersifat mutlak (final), dan akan berlaku sepanjang zaman (sepanjang kehidupan manusia). Meskipun, banyak diantara umat manusia yang menolak dan menentangnya. (QS. Al-A’raf : 2, 3).

Tetapi seperti digambarkan dalam Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang merupakan petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah Allah Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan hidupnya. Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5).

Tentu, yang pertama dilaknat oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal usul. Inilah yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti jejak Iblis, yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran keimanan dan ketakwaannya. Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena sikapnya yang sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13).

Makhluk yang diciptakan oleh Allah, yang terkena perintah harus meninggalkan surga, adalah Adam As, yang terkena bujukan dan kemudian memakan buah yang dilarang oleh Allah, yaitu buah kuldi. Adam As, lalai atas larangan itu, dan terbujuk dengan bisikan Iblis, dan kemudian melanggar perintah Allh. Adam As, merupakan makhluk pertama yang diciptakan yang melanggar perintah Allah, karena terkena fitnah Iblis, dan kemudian diusir dari surga. (QS. Al-A’raf : 20, 22).

Selanjutnya, kisah Nabi Nuh As, mengaja umat untuk beriman, tetapi ajakannya ditentang dengan keras, bahkan beliau dituduh sesat oleh para pemimpin kaumnyaitu. Dakwah yang dilangsungkan Nabi Nuh As, yang berlangsung selama hampir 90 tahun, gagal, dan terus mendapatkan penolakan dari kaumnya, sampailah datang datang azab dari berupa datangnya air bah (tsunami), yang menghancurkan seluruh kaumnya. (QS. Al-A’raf : 59, 60, 64).

Kaum Nabi Hud As, yang dikenal dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat, datangnya angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh tanaman mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang dikiran akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71).

Kisah berikutnya, kaumnya Nabi Saleh As, yaitu kaum Samud, yang menyembah agama Allah, dan dilarang menyakiti unta betina, tetapi perintah dan larangan itu, semuanya dilanggar oleh kaumnya Nabi Saleh As, yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat, sehingga kaum Samud luluh lantak.
Kisah Nabi Luth As, yang kaumnya melakukan perbuatan terkutuk dengan melakukan sodomi (liwat). Ketika Nabi Luth As, melarang perbuatan keji itu, mereka tidak menggubrisnya, dan mengusirnya Nabi Luth dan para pengikutnya yang beriman, dan kaumnya Nabi Luth dihancurkan oleh Allah Ta’ala dengan hujan batu karena perbuatan dosa mereka. (QS. Al-A’raf : 80, 81, 84).

Masih dalam kisah, tentang Nabi Syu’aib As, yang menyuruh kaumnya ta’at kepada Allah, dan tidak berlaku curang dengan cara mengurangi timbangan, tetapi kaumnya itu tetap sombong, dan tidak mau mengikuti syariah yang diperintahkan Allah kepada mereka. Tetapi, lagi-lagi kaumnya Nabi Syu’aib bersama denga para pemukanya, mengusir Nabi Syu’aib, kecuali Nabi Syu’aib mau kembali ke agama mereka yang sesat itu, dan Allah menurunkan adab terhadap mereka berupa gempa yang amat dahsyat, yang memusnahkan kaumnya Nabi Syu’aib. (QS. Al-A’raf : 85, 88, 90, 91).

Terakhir, kaumnya Nabi Musa As, yang telah diselamatkan dari kehancuran, akibat selalu ingkar dan berbuat zalim. Kaumnya Nabi Musa As ini diselamatkan dari kekejaman Fir’aun, dan mereka selamat dari bahaya kehancuran, tetapi mereka tetap tidak mau beriman, dan selalu berbuat kekafiran, seperti membuat patung sapi, yang kemudian mereka sembah. Inilah kisah antara Nabi Musa As, kaumnya, dan Fir’aun, yang dimenangkan oleh Nabi Musa As, dan kaumnya. Tetapi lagi-lagi mereka ingkar dan kafir, dan menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka tetap menyembah berhala. (QS. Al-A’raf : 150, 155, 162, 167).


Dan, seburuk-buruknya kaum adalah kaum Yahudi, yang terus-menerus berbuat dzalim, dan menolak kebenaran, dan ingkar dengan seingkar-ingkarnya kepada risalah Allah. Wallahu’alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/belajarlah-dari-kehancuran-kaum-terdahulu.htm

Monday, May 11, 2015

Memperbaharui Komitmen Beragama

Memperbaharui Komitmen Beragama
 
            Kata ‘komitmen’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu. Orang yang komit diartikan sebagai orang yang mewajibkan diri untuk melakukan sesuatu.
            Sedangkan agama Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. mengandung tuntunan hubungan manusia dengan Allah Sang Pencipta (Al-Khaliq), hubungan manusia dengan dirinya sendiri, maupun hubungan manusia dengan manusia lainnya. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Al-Khaliq tertuang dalam hukum-hukum syari’ah mengenai aqidah dan ibadah. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri tertuang dalam hukum-hukum syari’ah mengenai akhlak, pakaian, makanan, dan minuman. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya tertuang dalam hukum-hukum syari’ah mengenai perkawinan, pewarisan, jual-beli, sewa-menyewa, kontrak kerja, dan mu’amalah lainnya, serta berbagai peraturan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan, pengadilan, dan pelaksanaan sanksi hukum untuk menegakkan aturan Islam itu di masyarakat.
            Ketika seorang muslim mengucapkan dua kalimat syahadat berarti dia telah mengikat dirinya dengan pandangan hidup Islam, bahwa tiada Dzat yang dia akui sebagai satu-satunya Dzat yang layak disembah kecuali Allah swt.; bahwa tiadalah tugas hidup di dunia ini melainkan beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzaariyaat : 56), baik dalam arti sempit maupun luas; bahwa tiada cara beribadah kepada-Nya yang diterima kecuali yang datang dari Muhammad Rasulullah saw.; bahwa seluruh aktivitas hidupnya harus berjalan sesuai dengan aturan Allah; dan bahwa di akhirat kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kesaksian dan komitmennya itu yang dia wujudkan dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatannya selama hidup.

Komitmen Beragama Para Sahabat Nabi Muhammad saw.
            Para sahabat Rasulullah saw. di Kota Makkah saat mereka menyatakan penerimaan dan kesaksian mereka kepada Rasulullah saw. yang menawarkan aqidah tauhid memiliki komitmen untuk hidup baru sesuai dengan pengarahan Allah swt.
            Ibnu Mas’ud ra. adalah orang yang pertama kali membacakan Alquran secara terbuka di tempat berkumpulnya orang Quarisy di dekat Ka’bah. Tentu saja orang-orang Quraisy langsung memukulnya sampai babak belur. Ketika kembali kepada para sahabatnya, dia justru mengatakan, “mulai sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan dari orang Quraisy. Berikanlah lagi ayat-ayat Alquran, pasti akan kubacakan di hadapan mereka!”
            Setelah Islam kuat secara politik maupun militer di Madinah, kaum muslimin semakin komit dengan ajaran Islam, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berjama’ah (bermasyarakat dan bernegara). Orang-orang Anshar yang pada saat Baiat Aqabah II menyatakan komitmen mereka (dalam bentuk baiat) kepada Rasulullah saw. untuk melindungi beliau saw. sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka, benar-benar memenuhi komitmen mereka. Mereka selalu berjuang dan berjihad bersama Rasulullah saw. tanpa pamrih.
            Dengan kegigihan dan komitmen yang tinggi para sahabat kepada perjuangan Islam, Allah swt. menolong Rasulullah saw. dan seluruh kaum muslimin dalam memenangkan berbagai peperangan melawan kaum Quraisy, kaum Yahudi, dan musuh-musuh lainnya. Sehingga Allah swt. mengokohkan wilayah kekuasaan negara Islam itu dari negara kota Madinah pada tahun pertama hingga meluas ke seluruh wilayah Jazirah Arab pada tahun kesepuluh, bertepatan dengan tahun wafatnya Rasulullah saw.

Cara Memperbaharui Komitmen Beragama
            Kita semua bisa merasakan, tatkala Ramadhan begitu rajin kita beribadah. Begitu semangat kita ingin menjadi muslim yang diridhai Allah. Begitu rajin kita mempersiapkan makan sahur, melaksanakan salat tarawih dan membaca Alquran. Tetapi, ketika lebaran tiba, segala aktivitas mulia di atas pupus sudah. Disinilah perlunya memperbaharui komtimen beragama Islam kita dengan cara sebagai berikut:
Pertama, kita bersihkan dan murnikan kembali kebenaran keimanan kita kepada Islam. Di malam hari kita bermunajat kepada Allah dan merenungkan kembali pernyataan kita.
Kedua, kita perlu meneladani komitmen beragama para sahabat yang merupakan contoh generasi yang memiliki komitmen Islam sangat tinggi. Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan metode kehidupan Islam yang suci.
Ketiga, marilah kita mulai mewujudkan langkah menumbuhkan komitmen itu satu persatu dalam diri kita dengan melaksanakan, mencatat, dan mengontrol komitmen kita itu satu persatu dalam perkara-perkara yang bisa kita lakukan terlebih dahulu sesuai dengan kemampuan kita. Misalnya, kita mulai dengan mendisiplinkan salat berjama’ah, merutinkan salat tahajjud, merutinkan shaum Senin dan Kamis serta sunnah lainnya, dan merutinkan membaca Alquran setiap usai salat subuh dan salat maghrib. Setelah itu insya Allah perkara-perkara lain bisa kita lakukan dengan lebih mudah.

Khatimah
            Akhirnya, marilah kita perbaharui komitmen beragama Islam kita dengan merenungkan kata-kata bijak:
Bukanlah berlebaran itu bagi orang yang bajunya baru, tetapi berlebaran itu bagi orang yang ketaatannya bertambah.
            Semoga kita termasuk di dalamnya. Allahumma Amin!.
.
Sumber: Buletin Dakwah AL-IHSAN, Edisi 054/Tahun II, Jum’at, 2 November 2007.
.