Memperbaharui
Komitmen Beragama
Kata
‘komitmen’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian atau
keterikatan untuk melakukan sesuatu. Orang yang komit diartikan sebagai orang
yang mewajibkan diri untuk melakukan sesuatu.
Sedangkan
agama Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad
saw. mengandung tuntunan hubungan manusia dengan Allah Sang Pencipta
(Al-Khaliq), hubungan manusia dengan dirinya sendiri, maupun hubungan manusia
dengan manusia lainnya. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan
Al-Khaliq tertuang dalam hukum-hukum syari’ah mengenai aqidah dan ibadah.
Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri tertuang
dalam hukum-hukum syari’ah mengenai akhlak, pakaian, makanan, dan minuman.
Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya tertuang
dalam hukum-hukum syari’ah mengenai perkawinan, pewarisan, jual-beli,
sewa-menyewa, kontrak kerja, dan mu’amalah lainnya, serta berbagai peraturan
yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan, pengadilan, dan pelaksanaan
sanksi hukum untuk menegakkan aturan Islam itu di masyarakat.
Ketika
seorang muslim mengucapkan dua kalimat syahadat berarti dia telah mengikat
dirinya dengan pandangan hidup Islam, bahwa tiada Dzat yang dia akui sebagai
satu-satunya Dzat yang layak disembah kecuali Allah swt.; bahwa tiadalah tugas
hidup di dunia ini melainkan beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzaariyaat : 56),
baik dalam arti sempit maupun luas; bahwa tiada cara beribadah kepada-Nya yang
diterima kecuali yang datang dari Muhammad Rasulullah saw.; bahwa seluruh
aktivitas hidupnya harus berjalan sesuai dengan aturan Allah; dan bahwa di
akhirat kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kesaksian dan
komitmennya itu yang dia wujudkan dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatannya
selama hidup.
Komitmen
Beragama Para Sahabat Nabi Muhammad saw.
Para
sahabat Rasulullah saw. di Kota Makkah saat mereka menyatakan penerimaan dan
kesaksian mereka kepada Rasulullah saw. yang menawarkan aqidah tauhid memiliki
komitmen untuk hidup baru sesuai dengan pengarahan Allah swt.
Ibnu
Mas’ud ra. adalah orang yang pertama kali membacakan Alquran secara terbuka di
tempat berkumpulnya orang Quarisy di dekat Ka’bah. Tentu saja orang-orang
Quraisy langsung memukulnya sampai babak belur. Ketika kembali kepada para
sahabatnya, dia justru mengatakan, “mulai sekarang tidak ada lagi yang
kutakutkan dari orang Quraisy. Berikanlah lagi ayat-ayat Alquran, pasti akan
kubacakan di hadapan mereka!”
Setelah
Islam kuat secara politik maupun militer di Madinah, kaum muslimin semakin
komit dengan ajaran Islam, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan
berjama’ah (bermasyarakat dan bernegara). Orang-orang Anshar yang pada saat
Baiat Aqabah II menyatakan komitmen mereka (dalam bentuk baiat) kepada
Rasulullah saw. untuk melindungi beliau saw. sebagaimana mereka melindungi
keluarga mereka, benar-benar memenuhi komitmen mereka. Mereka selalu berjuang
dan berjihad bersama Rasulullah saw. tanpa pamrih.
Dengan
kegigihan dan komitmen yang tinggi para sahabat kepada perjuangan Islam, Allah
swt. menolong Rasulullah saw. dan seluruh kaum muslimin dalam memenangkan
berbagai peperangan melawan kaum Quraisy, kaum Yahudi, dan musuh-musuh lainnya.
Sehingga Allah swt. mengokohkan wilayah kekuasaan negara Islam itu dari negara
kota Madinah pada tahun pertama hingga meluas ke seluruh wilayah Jazirah Arab
pada tahun kesepuluh, bertepatan dengan tahun wafatnya Rasulullah saw.
Cara
Memperbaharui Komitmen Beragama
Kita
semua bisa merasakan, tatkala Ramadhan begitu rajin kita beribadah. Begitu
semangat kita ingin menjadi muslim yang diridhai Allah. Begitu rajin kita
mempersiapkan makan sahur, melaksanakan salat tarawih dan membaca Alquran.
Tetapi, ketika lebaran tiba, segala aktivitas mulia di atas pupus sudah.
Disinilah perlunya memperbaharui komtimen beragama Islam kita dengan cara
sebagai berikut:
Pertama, kita bersihkan dan murnikan kembali kebenaran keimanan kita kepada Islam.
Di malam hari kita bermunajat kepada Allah dan merenungkan kembali pernyataan
kita.
Kedua, kita perlu meneladani komitmen beragama para sahabat yang merupakan contoh
generasi yang memiliki komitmen Islam sangat tinggi. Mereka adalah orang-orang
yang hidup dengan metode kehidupan Islam yang suci.
Ketiga, marilah kita mulai mewujudkan langkah menumbuhkan komitmen itu satu
persatu dalam diri kita dengan melaksanakan, mencatat, dan mengontrol komitmen
kita itu satu persatu dalam perkara-perkara yang bisa kita lakukan terlebih
dahulu sesuai dengan kemampuan kita. Misalnya, kita mulai dengan mendisiplinkan
salat berjama’ah, merutinkan salat tahajjud, merutinkan shaum Senin dan Kamis
serta sunnah lainnya, dan merutinkan membaca Alquran setiap usai salat subuh
dan salat maghrib. Setelah itu insya Allah perkara-perkara lain bisa kita lakukan
dengan lebih mudah.
Khatimah
Akhirnya,
marilah kita perbaharui komitmen beragama Islam kita dengan merenungkan
kata-kata bijak:
Bukanlah
berlebaran itu bagi orang yang bajunya baru, tetapi berlebaran itu bagi orang
yang ketaatannya bertambah.
Semoga
kita termasuk di dalamnya. Allahumma
Amin!.
.
Sumber: Buletin Dakwah AL-IHSAN, Edisi 054/Tahun II,
Jum’at, 2 November 2007.
.