Monday, May 11, 2015

Memperbaharui Komitmen Beragama

Memperbaharui Komitmen Beragama
 
            Kata ‘komitmen’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu. Orang yang komit diartikan sebagai orang yang mewajibkan diri untuk melakukan sesuatu.
            Sedangkan agama Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. mengandung tuntunan hubungan manusia dengan Allah Sang Pencipta (Al-Khaliq), hubungan manusia dengan dirinya sendiri, maupun hubungan manusia dengan manusia lainnya. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Al-Khaliq tertuang dalam hukum-hukum syari’ah mengenai aqidah dan ibadah. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri tertuang dalam hukum-hukum syari’ah mengenai akhlak, pakaian, makanan, dan minuman. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya tertuang dalam hukum-hukum syari’ah mengenai perkawinan, pewarisan, jual-beli, sewa-menyewa, kontrak kerja, dan mu’amalah lainnya, serta berbagai peraturan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan, pengadilan, dan pelaksanaan sanksi hukum untuk menegakkan aturan Islam itu di masyarakat.
            Ketika seorang muslim mengucapkan dua kalimat syahadat berarti dia telah mengikat dirinya dengan pandangan hidup Islam, bahwa tiada Dzat yang dia akui sebagai satu-satunya Dzat yang layak disembah kecuali Allah swt.; bahwa tiadalah tugas hidup di dunia ini melainkan beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzaariyaat : 56), baik dalam arti sempit maupun luas; bahwa tiada cara beribadah kepada-Nya yang diterima kecuali yang datang dari Muhammad Rasulullah saw.; bahwa seluruh aktivitas hidupnya harus berjalan sesuai dengan aturan Allah; dan bahwa di akhirat kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kesaksian dan komitmennya itu yang dia wujudkan dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatannya selama hidup.

Komitmen Beragama Para Sahabat Nabi Muhammad saw.
            Para sahabat Rasulullah saw. di Kota Makkah saat mereka menyatakan penerimaan dan kesaksian mereka kepada Rasulullah saw. yang menawarkan aqidah tauhid memiliki komitmen untuk hidup baru sesuai dengan pengarahan Allah swt.
            Ibnu Mas’ud ra. adalah orang yang pertama kali membacakan Alquran secara terbuka di tempat berkumpulnya orang Quarisy di dekat Ka’bah. Tentu saja orang-orang Quraisy langsung memukulnya sampai babak belur. Ketika kembali kepada para sahabatnya, dia justru mengatakan, “mulai sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan dari orang Quraisy. Berikanlah lagi ayat-ayat Alquran, pasti akan kubacakan di hadapan mereka!”
            Setelah Islam kuat secara politik maupun militer di Madinah, kaum muslimin semakin komit dengan ajaran Islam, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berjama’ah (bermasyarakat dan bernegara). Orang-orang Anshar yang pada saat Baiat Aqabah II menyatakan komitmen mereka (dalam bentuk baiat) kepada Rasulullah saw. untuk melindungi beliau saw. sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka, benar-benar memenuhi komitmen mereka. Mereka selalu berjuang dan berjihad bersama Rasulullah saw. tanpa pamrih.
            Dengan kegigihan dan komitmen yang tinggi para sahabat kepada perjuangan Islam, Allah swt. menolong Rasulullah saw. dan seluruh kaum muslimin dalam memenangkan berbagai peperangan melawan kaum Quraisy, kaum Yahudi, dan musuh-musuh lainnya. Sehingga Allah swt. mengokohkan wilayah kekuasaan negara Islam itu dari negara kota Madinah pada tahun pertama hingga meluas ke seluruh wilayah Jazirah Arab pada tahun kesepuluh, bertepatan dengan tahun wafatnya Rasulullah saw.

Cara Memperbaharui Komitmen Beragama
            Kita semua bisa merasakan, tatkala Ramadhan begitu rajin kita beribadah. Begitu semangat kita ingin menjadi muslim yang diridhai Allah. Begitu rajin kita mempersiapkan makan sahur, melaksanakan salat tarawih dan membaca Alquran. Tetapi, ketika lebaran tiba, segala aktivitas mulia di atas pupus sudah. Disinilah perlunya memperbaharui komtimen beragama Islam kita dengan cara sebagai berikut:
Pertama, kita bersihkan dan murnikan kembali kebenaran keimanan kita kepada Islam. Di malam hari kita bermunajat kepada Allah dan merenungkan kembali pernyataan kita.
Kedua, kita perlu meneladani komitmen beragama para sahabat yang merupakan contoh generasi yang memiliki komitmen Islam sangat tinggi. Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan metode kehidupan Islam yang suci.
Ketiga, marilah kita mulai mewujudkan langkah menumbuhkan komitmen itu satu persatu dalam diri kita dengan melaksanakan, mencatat, dan mengontrol komitmen kita itu satu persatu dalam perkara-perkara yang bisa kita lakukan terlebih dahulu sesuai dengan kemampuan kita. Misalnya, kita mulai dengan mendisiplinkan salat berjama’ah, merutinkan salat tahajjud, merutinkan shaum Senin dan Kamis serta sunnah lainnya, dan merutinkan membaca Alquran setiap usai salat subuh dan salat maghrib. Setelah itu insya Allah perkara-perkara lain bisa kita lakukan dengan lebih mudah.

Khatimah
            Akhirnya, marilah kita perbaharui komitmen beragama Islam kita dengan merenungkan kata-kata bijak:
Bukanlah berlebaran itu bagi orang yang bajunya baru, tetapi berlebaran itu bagi orang yang ketaatannya bertambah.
            Semoga kita termasuk di dalamnya. Allahumma Amin!.
.
Sumber: Buletin Dakwah AL-IHSAN, Edisi 054/Tahun II, Jum’at, 2 November 2007.
.